Pengamat Nilai DKI Belum Maksimal Memelihara Taman

loading…

Warga tengah bermain di taman. Foto/Ilustrasi/SINDOphoto

JAKARTA – Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti Nirwono Joga menilai, Pemprov DKI Jakarta belum mampu memelihara Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ada saat ini. Pembangunan taman tidak dibarengi dengan budaya bertaman.

Menurutnya, RTH yang ada saat ini belum dioptimalkan untuk warga lantaran pembangunan tidak dibarengi dengan membangun budaya bertaman. Seharusnya, Dinas Pertamanan dan Kehutanan mampu menghidupkan taman yang ada. Salah satu caranya yaitu jangan mempersulit izin kegiatan bertaman. Justru, pemerintah mengajak masyarakat membuat kegiatan di taman.

“Ini yang belum muncul. Jadi yang ada sekarang saja belum dioptimalkan, akibatnya apa? Akibatnya dorongan untuk menambah RTH dari masyarakat itu kurang karena belum menjadi bagian kebutuhan. Kalau ini bagian dari budaya kemudian kita butuh, pasti kita mendorong pemerintah untuk lebih lagi menambah taman-taman,” kata Nirwono Joga saat dihubungi, Kamis 12 September 2019.

Baca Juga:

Nirwono menjelaskan, budaya bertaman itu harus dimulai dari kecil dan rutinitas setiap hari. Misalnya pelajar sekolah memanfaatkan kegiatan olahraga dan belajar di taman sekitar. Begitu juga dengan orang perkantoran yang makan siang misalnya di taman.

Dari sekitar 2.000 taman kota yang ada di Jakarta, Nirwono hanya merekomendasikan 30 taman yang benar-benar layak kunjung. Artinya, angka tersebut sangat sedikit sekali. Seharusnya itu menjadi target Pemprov DKI Jakarta menaikkan jumlah taman kota layak kunjung.

“Nah ini belum muncul, salah satunya karena pemeliharaannya dan juga belum muncul bidaya bertaman,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Perencanaan Pertamanan Dinas Kehutanan DKI Jakarta, Hendrianto mengatakan pada tahun ini sedikitnya ada 53 taman yang dibangun di empat wilayah kota, dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2019 sebesar Rp130 Miliar.

“Total luas 53 taman itu sekitar 27 hektar lebih. Jakarta Pusat tidak ada pembangunan,” ungkapnya.

Hendrianto menjelaskan, konsep Taman Maju Bersama adalah membangun ruang terbuka hijau (RTH) dengan mengutamakan ruang interaksi antarwarga. Untuk itu, dalam setiap pembangunannya melibatkan komunikasi dengan warga. Sehingga, kebutuhan warga berinteraksi di taman bisa terpenuhi.

Misalnya saja dibutuhkan sanggar tari atau silat. Kata Hendrianto, pihaknya akan menyediakan ampiteater. Kemudian, minatnya olahraga futsal, pihaknya akan menyediakan lapangan futsal berikut dengan lapangan lainnya yang bisa di optimalkan dari lapangan futsal tersebut.

“Kegiatan yang mirip dengan tempat yang sama kita mainkan di program kegiatan waktunya,” ungkapnya. (Baca juga: Alokasikan Dana Rp130 Miliar, DKI Bangun 53 Taman Maju Bersama)

(mhd)