Tingkatkan Pelayanan, Jakarta Smart City Kembangkan Kerjasama dengan Startup

loading…

JAKARTA – Jakarta Smart City (JSC) terus berupaya mengatasi permasalahan dan melayani kebutuhan warga dengan teknologi. Kerjasama dengan para startup menjadi fokus utama pengembangan JSC.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) DKI Jakarta, Atika Nur Rahmania mengatakan, saat ini pihaknya memiliki produk Cepat Respon Masyarakat (CRM) sebagai salah satu pengembangan produk JSC. Menurutnya, CRM tersebut dilatarbelakangi oleh aplikasi Qlue yang jelas dapat mengidentifikasi permasalahannya. Baik dengan melihat atau memotret dan melaporkannya.

Namun, kata Atika, Qlue kerap terkendala karena tidak semua masyarakat melihat perkembangan tekhnologi dan ada juga yang melihat tetapi tidak mau melaporkannya di sosial media karena ga mau repot dan ada juga ibu-ibu yang tidak mau mengoperasikan aplikasi di telpon genggamnya tetapi dia mau mengeluhkan. Untuk itu, ada bale warga dan berbagai kegiatan lainnya di kelurahan.

Baca Juga:

“JSC mencapture semua dalam satu platform namanya Cepat Respon Masyarakat sebagai pelajaran dari Qlue, artinya Qlue tetap dipakai untuk melayani masyarakat yang suka menyampaikan keluhan dengan teknologi,” kata Atika di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (12/8).

Atika menjelaskan, sedikitnya ada 12 keluhan di CRM dengan tujuan agar ada respons yang cepat. Menurutnya, apabila ada keluhan seperti di media sosial Twitter terkait lambatnya respons aduan itu diakibatkan oleh cek and ricek kebenaran keluhan. Banyak kata dia, keluhan warga yang tidak jelas kebenarannya. (Baca: Jakarta Masuk 30 Kota Ekosistem Startup Potensial)

Kemudian, lanjut Atika, ada aturan sanksi yang bilamana perangkat daerah terkait tidak menindaklanjuti respons tersebut tunjangan Kinerja Daerah (TKD) akan dipotong. Hal itu tentunya untuk menjamin respons cepat masyarakat.

“Kita tahu siapa (perangkat daerah) yang lambat, tiap bulan dilaporkan ke wali kota. Kita kasih dasboard wali kota, kita juga mengecek. setiap dua bulan sekali kita review di town hall meeting. Penalti kita TKD,” ungkapnya.

Penyediaan infrastruktur, kata Atika telah dilakukan sejak awal JSC dibangun. Saat ini yang dilakukan adalah pengembangan level smartcity. Bagaimana memanfaatkan teknologi bukan sekedar internal pelayanan pemerintah.

Akhirnya JSC pun ditempatkan sebagai inovasion hub untuk melahirkan layanan digital yang membantu masyarakat seperti info pangan, dan jual beli tanah yang sudah ada meskipun masih standar.

“Apalagi nih agar JSC menjadi lebih cepat sebagai inovasion hub. Gunanya membangun ekositem digital di kota Jakarta dengan mengundang ekosistem starup di Jakarta,” ungkapnya.

Atas pemikiran tersebut, Atika mengkolaborasikannya dengan menjadikan pemerintah sebagai pihak yang mempunyai pemahaman permasalahan dan pemilik infrastruktur pendukung sebuah Startup tersebut.
Ke depan, Atika menyatakan akan bekerja sama dengan start up bidang kuliner, pariwisata dan sebagainya dan menjadikan JSC seperti aplikasi Gojek atau Grab yang satu pintu dalam berbagai pelayanan aplikasi.
“Nah kita mau buat satu JSC tapi didalamnya banyak berbagai pelayanan. Kalau Gojek itu kan ada Go ride, Go food, Go massage. Nah nanti di JSC dalamnya itu ada pelayanannya. Semacam pelayanan terpadu satu pintu gitu tapi bentuknya aplikasi,” pungkasnya.

(wib,ysw)