Mengubah Kehidupan, MRT Dianggap Mendekatkan Keluarga

loading…

Suasana penumpang di dalam gerbong MRT. Foto/Yan Yusuf/SINDOnews

JAKARTA – Raut wajah Roland (52), tampak lelah. Bergulat dengan persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara di Gajah Mada, Jakarta Pusat membuat Roland ingin sesegera tiba di rumahnya di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan.

Dengan menggunakan tas slempang kulit, Roland duduk di kursi dekat pintu di gerbong 6 rangkaian Mass Rapid Transit (MRT). Usia duduk, Roland menyelonjorkan kakinya.

“Jakarta panas yah, untung keretanya adem,” celoteh Roland berbincang dengan seorang pria muda yang duduk disampingnya, Rabu (10/7/2019).

Baca Juga:

Perbincangan keduanya tampak begitu akrab membahas soal ditolaknya sidang gugatan Capres Prabowo-Sandi di Mahkamah Konstitusi (MK). Sebagai Pengacara dan praktisi hukum, Roland paham betul. Sementara pria muda berumur 20 tahunan itu tampak asik mendengarkan pendapat Roland.

Asik bercerita, tiba tiba ponsel Roland berdering. Roland tersenyum kecil, ia tampak bercanda dengan suara dalam ponsel. Janji akan pulang cepat ia sampaikan kepada seseorang dalam ponsel.

“Eyang sudah di kereta ini. Bentar lagi sampai, nanti eyang beliin donat yah,” ucap Roland yang kemudian mengucapkan salam mengakhiri pembicaraan dalam telephon.

Kepada SINDOnews, Roland mengakui adanya MRT merubah kehidupannya. Bila biasanya ia menggunakan kendaraan pribadi dari rumahnya di sekitaran Fatmawati, namun sejak beberapa minggu lalu, ia kerap menggunakan MRT.

Dari rumah ke Stasiun Fatmawati, Roland menggunakan ojek online sebesar Rp5.000. “Atau kadang berangkat bareng sama anak saya,” ucapnya.

Roland mengakui bila menggunakan kendaraan pribadi dari Pengadilan Jakarta Utara di Gajah Mada menuju rumahnya membutuhkan waktu hampir 1,5 jam. Ia kerap kelelahan menyupir, karena itu, tak jarang ia harus menepi sejenak melepas lelah.

Tapi kini, adanya MRT membantu Roland. Meskipun bila dihitung ongkos MRT agak jauh mahal bila digabungkan dengan transportasi online saat ke tujuan. Namun menurutnya, hal ini jauh lebih baik. Ia tak lagi lelah bergulat dengan kemacetan. Sisa waktu di hari itu ia bisa gunakan bermain dengan cucu pertamannya.

“Yah senang saja mas. Pulang ke rumah enggak cape. Capenya main sama cucu,” ucap Roland.

Lain halnya dengan Theresia (32), Indarto (35) dan Sisi (32), ketiga karyawan swasta ini memanfaatkan MRT untuk mencari makan di kawasan Blok M saat jam makan siang. Dengan waktu tempuh yang cukup cepat, membuat ketiga kerap kali berkuliner disekitaran Blok M, atau berolahraga jogging di Senayan.

“Dari Setia Budi ke Blok M kan enggak lebih dari 10 menit. Yah waktu jam makan siang 1 jam cukup lah,” ucap Indarto mewakili dua teman wanitanya.

Indarto mengakui bila harus makan di kantin kantor akan sangat membosankan menunya yang seperti itu, dirasa kurang variatif.

“Kalau di blok M kan banyak tuh. Yah kalau bosen lagi ke Pl (Plaza Indonesia), sayang saja harganya mahal-mahal,” ujarnya.

Kian hari suasana MRT jauh lebih baik. Gerbong kereta yang dahulu dipenuhi dengan masyarakat membawa makanan, kali ini tak terlihat. Suasana jauh lebih menyenangkan dengan gerbong kereta yang sangat kosong.

Termasuk di bagian stasiun, antrean penumpang yang terlihat saat uji coba nyaris tak terlihat. Stasiun tampak lenggang, antrean hanya terlihat di dekat masin tapping kartu, namun hal itu bisa diatasi dengan sejumlah petugas yang tampak berjaga di kawasan itu.

Kondisi tak jauh berbeda juga terlihat di peron dekat rel kereta. Kepadatan hanya terlihat di jam tertentu, khususnya saat kereta datang dan kereta pergi. Sementara di luar jam sibuk, kepadatan stasiun nyaris tak terlihat.

SINDOnews sendiri menjajal perjalanan dari Stasiun Bundaran Hotel Indonesia (HI) ke Stasiun Grab Lebak Bulus, perjalanan melintasi 13 stasiun itu memerlukan waktu 28.33 menit. Selama perjalanan MRT akan berhenti selama 30 detik-1,5 menit ditiap stasiun tergantung kepadatan penumpang.

Memasuki kawasan stasiun akhir MRT Lebak Bulus. Para penumpang mengeluhkan dengan kondisi park and ride yang kejauhan. Berjarak 150 meter, penumpang MRT diwajibkan berjalan kurang lebih 5 menit dari stasiun menuju park and ride. “Jauh sekali mas. Harusnya dekat saja,” kata Yogi (43), penumpang MRT lainnya.

Kondisi yang agak jauh ini dimanfaatkan sejumlah angkutan ojek online. Setiap menjelang sore, mereka tampak berkumpul di sekitaran Stasiun MRT Lebak Bulus dan park n ride. Satu kali bulak balik pun mereka dikenakan biayaRp 5.000 hingga Rp1.000 untuk promo. “Sangat murah dibandingkan kita jalan,” ucap yogi.

Ucapan yogi diamani oleh Sugih (28), pengendara ojek online. Ia mengakui sejak pagi dan sore hari dirinya biasa mangkal di kawasan Stasiun MRT Lebak Bulus. Dari perjalan singkat ke park n ride dan Stasiun Lebak Bulus dirinya mampu mengantongi untung puluhan ribu.

(mhd)