Jalani Hidup Sekadarnya, tapi Keselamatan Nyawa Terjamin

loading…

Sejumlah pengungsi Afghanistan mendirikan bangunan seadanya di Jakarta Barat.Foto/SINDOnews/Yan Yusuf

JAKARTA – Sejumlah pengungsi asal Afghanistan merasa sangat senang dapat melaksanakan Ramadhan di Indonesia. Pasalnya, meskipun harus hidup menggembel namun keselamatan nyawa mereka terjamin dibandingkan di negara asal.

“Kalau di negara saya, Afghanistan tiap hari konflik. Peluru dan rudal hanya beberapa sentimeter dari atap rumah,” kata salah seorang pengungsi Afghanistan, Ali Reza di Rudinem, Kalideres, Jakarta Barat, Kamis (16/5/2019).

Ali mengharapkan Indonesia tak seperti negaranya, konflik berkepanjangan tanpa henti membuat kondisi tak lagi nyaman. Ali pun keluar dari negaranya dan kabur ke beberapa negara arab lainnya sebelum akhirnya ke Indonesia.

Baca Juga:

Di Indonesia, Ali yang membawa tabungannya dari Afganistan kemudian sempat singgah ke beberapa kota mulai dari Bandung, Yogyakarta, Bogor, hingga Jakarta. Karena uang menipis dia kemudian pindah ke Rudenim.

Meski menggelandang, namun Ali mengaku senang tinggal di Indonesia. Masyarakatnya yang ramah membuatnya betah tinggal di sini. Terlebih di Indonesia tidak terjadi konflik.

Ali yang telah enam tahun tinggal di Indonesia mengenal sedikit bahasa Indonesia. Dia kemudian memahami kondisi Indonesia yang memanas setelah pemilu. Terlebih beberapa warga yang mengobrol mengetahui bahwa Indonesia disebutnya sangat mencekam.

“Indonesia itu orang baik-baik, agamanya banyak, sukunya banyak jangan sampai berantem yah. Jangan sampai terjadi kayak negara saya Afghanistan,” tuturnya.

Lain halnya dengan Farissa (13), pengungsi lainnya dari Afghanistan yang mengaku rindu dengan kampung halamannya. Sudah beberapa tahun Farissa tingga di depan Rudenim dan menggelandang.

Bersama dengan ayah dan ibu, dia tinggal di tenda pengungsian yang hanya beralas dan beratap terpal. Setiap harinya Farrissa harus tidur berhempitan di tenda yang kecil.”Tapi lebih baik dibandingkan di Afghanistan. Kami tak menemukan kedamaian di sana,” ucapnya.

Seorang pedagang makanan, Andri (27) mengaku tak masalah dengan keberadaan para pengungsi yang ada di sekitar Rudenim. Sekalipun mereka susah, namun mereka masih bisa bersosalisasi. Saat sahur pun, para pengungsi muslim ini kerap membagikan makanan kepada masyarakat sekitar termasuk dirinya.

“Jadi kalau bisa dibilang. Sekalipun susah mereka masih bisa berbagi,” ucapnya.
Tak hanya itu, saat membeli barang di warung, para pengungsi juga selalu membayar dan tak mengutang.

(whb)