Dari 40 DPT, Hanya 16 Orang Gangguan Jiwa di Bekasi Nyoblos

loading…

Sejumlah penyandang disabilitas mental di Yayasan Galuh menggunakan hak pilih mereka pada Pemilu 2019 di Kelurahan Sepanjangjaya, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, Rabu (17 April 2019). Foto/Ramadhan Adiputra/SINDOphoto

BEKASI – Sebanyak 16 penyandang disabilitas mental (gangguan jiwa) di Yayasan Galuh, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, Rabu (17/4/2019) siang memberikan hak suaranya. Namun, 24 orang dengan gangguan jiwa lainya gagal mencoblos hanya hanya petugas dari tiga Tempat Pemungutan Suara (TPS) saja yang melakukan jemput bola ke yayasan.

Petugas yang datang membawa surat suara dari TPS 19, 21, dan 116. Petugas yang datang membawa surat suara dan logistic pencoblosan ke lokasi tersebut. Belasan orang gangguan jiwa sambil duduk berbaris menunggu antrean untuk memberikan hak suaranya dalam bilik kardus yang sudah disiapkan di lokasi tersebut.

Dari 40 DPT, Hanya 16 Orang Gangguan Jiwa di Bekasi Nyoblos

Pengurus Yayasan Galuh Bekasi, Jajat Sudrajat mengatakan, jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) di yayasan mencapai 40 orang. Jumlah ini bertambah 25 orang dari informasi awal yang hanya 15 orang. Adapun 25 pasien bisa ikut mencoblos karena dibekali formulir A5 atau numpang milih di wilayah setempat.

Meski ada 40 orang yang terdata sebagai DPT, namun setelah proses jemput bola itu hanya petugas dari tiga TPS saja yang datang. Sementara tiga TPS itu hanya melayani 16 pasien sesuai dengan pendataan yang ada, sedangkan 24 pasien lagi tidak ikut mencoblos karena tidak dilayani oleh petugas TPS tempatnya terdata.

Baca Juga:

“Sebetulnya yang ikut nyoblos itu ada 17 pasien, cuma satu pasien enggak ikut karena jumlah surat suara Pilpres dan DPR kurang sehingga dia dinyatakan gugur,” ungkapnya.

Meski demikian, pencoblosan yang dilakukan penyandang disabilitas mental itu baru pertama kali dilakukan di yayasan tersebut.

Sementara salah satu penyandang disabilitas mental ketika ditanya awak media mengunggulkan mantan presiden Amerika Serikat, Obama dalam ajang Pemilihan Umum (Pemilu). Padahal pasien bernama Mail Rojali ini sebetulnya tahu dua kandidat calon presiden dan wakil presiden RI.

“Saya mau pilih Obama nanti, karena dia baik calon Presiden Indonesia,” kata Mail dengan tatapan kosong dan sedikit tersenyum.

Dari 40 DPT, Hanya 16 Orang Gangguan Jiwa di Bekasi Nyoblos

Bahkan, setelah beberapa kali ditanya, Mail tetap bersikeras menyebutkan Obama ketika ditanya pilih mana calon presiden untuk Indonesia. Dengan wajah serius Rojali yakin Obama akan unggul dalam pemilihan umum versinya.

Sementara Pardi pasien lainnya lebih memilih Prabowo Subianto untuk menjadi presiden. Alasannya karena Prabowo meyakinkan hatinya. Namun, setelah ditanya tetap memilih Presiden Prabowo dan wakilnya Joko Widodo. “Pilih Prabowo karena meyakinkan bersama Jokowi,” katanya sambil menatap langit.

(mhd)