Jakarta Itu Asyik Sekaligus Menantang

loading…

Jakarta Itu Asyik Sekaligus Menantang. (Dok. SINDOnews).

MENYEBUT Kota Jakarta, pasti yang terpikir oleh teman-teman adalah macet. Hampir setiap sudut kota tak pernah luput dari hal ini.

Dari jalan besar sampai gang-gang kecil, kita selalu menemui macet. Sudah banyak solusi yang diberikan pemerintah mulai dari banyaknya transportasi umum dengan harga terjangkau, penerapan ganjil genap, sampai yang terbaru adalah dibangunnya mass rapid transit Jakarta atau MRT.

Apalagi kini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempercantik Kota Jakarta dengan pewarnaan kembali trotoar saat berlangsungnya Asian Games 2018 dan Asian Para Games 2018 lalu. Pemerintah juga melakukan pelebaran trotoar dan mempercantiknya, serta membersihkan para pedagang yang berjualan di trotoar.

Baca Juga:

Jakarta juga tak lepas dengan banyaknya jumlah mal. Hal ini dapat berdampak pada pola hidup masyarakat yang konsumtif. Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Aghnina Auliani menyebut Jakarta sangat kompleks.

“Di Kota Jakarta semuanya serba ada, apalagi transportasi umum yang sudah disediakan oleh pemerintah, setiap hari saya menggunakan busway karena harga yang terjangkau, sangat terbantu untuk pulang pergi ke kampus maupun memudahkan kita untuk pergi ke mana-mana,” beber mahasiswi rantau asal Kabupaten Tegal, Jawa Tengah ini.

Apalagi kini sedang dibangunnya transportasi umum baru, yaitu mass rapid transport atau MRT. Dengan menggunakan MRT, waktu perjalanan yang kita tempuh semakin singkat. Menurut mahasiswi Perbankan Syariah ini, dengan adanya MRT, wajah baru Jakarta semakin keren.

Dengan adanya MRT, setidaknya dapat mengurangi kemacetan Jakarta. MRT juga dapat menambah keindahan kota sama indahnya seperti kotakota di luar negeri. Saat ditanya mengenai pendapat dia tentang Kota Jakarta, ini jawabannya, “Jakarta itu menantang.

Karena di sini banyak perantau dari berbagai macam daerah, mulai dari yang ingin buka usaha, yang sedang menuntut ilmu, ataupun yang sedang berusaha mencari pekerjaan. Semuanya itu lari ke Ibu Kota. Jadi kita harus berusaha, karena di sini banyak saingannya.”

Juanah, mahasiswi Universitas Negeri Jakarta asal Tegal ini mengaku awalnya takut dengan Jakarta. “Dulu takut dan memiliki kesan negatif dengan orang-orang Jakarta, karena Jakarta sendiri adalah kota besar, dan kita bisa mendapatkan pergaulan seperti apa.

Namun, seiring berjalannya waktu, bisa beradaptasi, bagaimana kita dapat menempatkan diri. Jakarta itu asyik,” ujarnya. Menurut mahasiswi yang biasa disapa Juju ini, dengan tidak adanya pedagang di trotoar, hak pejalan kaki semakin dihargai.

Jadi pedagang kaki lima tidak sembarangan berjualan di trotoar, malah kalau di dekat kampus ada satpol PP yang akan merazia pedagang kaki lima apabila masih berjualan di trotoar.

KHOERUN NISA DYAH P.M
GEN SINDO-UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(nfl)